Senin, 01 April 2013

Penjara Koblen Surabaya

Penjara Koblen Surabaya

Di musim hujan seperti sekarang ini, kadang agak malas bepergian ke luar kota. Untuk sementara, lupakan dahulu spot-spot sejuk seperti Ranu Pani, Madakaripura, Cuban Baung, atau bahkan Ranu Kumbolo. Sebagai cara lain, touring jelajah budaya Surabaya sesekali perlu dilakukan.
Hari ini, Jumat 25 Januari 2013, ada 1 tujuan utama, destinasi blusukan kota-ku. Sebut saja namanya Penjara Koblen.Nah, bagaimana detil kisah touring budaya kali ini? Ikuti saya yuk….

13591650591536632282
sisi luar sebelah utara
1359165517664340711
sang penggiat touring cagar budaya sejarah
Penjara ini berada di Jalan Koblen Bubutan Surabaya. Menilik nama jalan, lalu masyarakat pun mufakat menamainya dengan Penjara Koblen. penjara ini berusia hampir seabad. Tangsi militer ini, dibangun pertama kali oleh VOC Belanda pada tahun 1930. Fungsi awal bangunan ini, yaitu sebagai basis militer maupun asrama militer tentara Belanda. Selain itu, bangunan yang dindingnya berstrukturkan batu-batuan kali ini, digunakan untuk memenjarakan para tahanan. Luas penjara Koblen kira-kira 3 Ha.
Kompleks ini dikelilingi tembok batu setinggi 3 meter yang masih kelihatan utuh sampai sekarang. Di bagian luar tembok dikelilingi parit. Di setiap sudutnya terdapat menara pengawas yang juga lumayan tersisa bentuknya. Di bagian dalamnya juga terdapat dua buah menara yang terpisah dari tembok luar, sayangnya tinggal satu yang masih berdiri, itupun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
13591656461897969456
lewat pintu inilah, dulu para tawanan pejuang NKRI dibui, mereka disiksa, disekap, dibantai, bahkan dibunuh oleh tentara VOC. Setelah Jepang mengalami kekalahan jelang 10 Nopember 1945, pejuang-pejuang Kempetai-nya dipaksa masuk ke dalam Koblen.
Penjara Koblen, memang berusia tua. Tetapi, usia yang tua, selalu menawarkan sisi sejarah yang dalam. Contoh, jelang pertempuran 10 Nopember 1945, banyak para milisi pemuda maupun tentara rakyat, bahu-membahu menggempur barak Kempetai (polisi militer) Jepang di Kusuma Bangsa. Serangan rakyat Surabaya begitu sporadis dan masif. Akibatnya, Kempetai Jepang kewalahan dan, kalah. Mereka yang kalah, lalu digiring ke Penjara Koblen. Dan, di sana, juga banyak tentara Belanda yang tertawan dan tertahan. Nah, kekalahan Kempetai di tangan pemuda dan tentara rakyat ini, berujung pada beralihnya gedung pusat Kempetai di bilangan Tugu Pahlawan (sekarang).
13591648402070701856
depan pintu masuk
13591658241051790336
dinding batu yang membingkai penjara maut, Koblen
Sebelum menjadi markas besar Kempetai Jepang, gedung itu bernama Raad van Justitie, gedung pengadilan Belanda. Setelah berada pada penguasaan arek-arek Suroboyo, ironisnya, gedung Kempetai malah dibombardir Sekutu. Tepatnya pada saat peristiwa paling heroik, 10 Nopember 1945. Setelah hancur (yang mungkin saja kehancurannya amat parah) lalu didirikanlah monumen Tugu Pahlawan yang kini kokoh dan gagah berdiri.
Kembali ke Koblen…
Penjara Koblen, kini berubah fungsi. Di dalamnya, banyak mobil, truk, bus, bahkan benda-benda tak laik pakai (baca: sampah). Ada pula beberapa jenis primata unggas yang sedang dibiarkan bebas berkeliaran di area dalam yang sekarang berubah menjadi tanah lapang. Amat ironis, tepat di sisi timur, berdirilah bangunan mall megah. Ketinggian mall itu, berbanding terbalik dengan keadaan prihatin dari sebuah cagar budaya kota Surabaya. Tak terawat, hancur oleh beragam kepentingan segelintir kaum penikmat uang. Tetapi, di sisi lain, keadaan dinding bangunan tua ini, masih tegas terlihat. Biarpun, di sejumlah sudutnya, bertumbuhan hijauan lumut segar merambah.
1359165151880882497
kondisi di area dalam bekas penjara
13591654091885786839
menara pengintai bagian dalam, saksi kekejaman tentara VOC Belanda
1359166238667258873

Penjara Koblen, terletak di wilayah Bubutan. Daerah ini, memang bisa dikatakan gudang-nya tempat bersejarah. Selain Penjara Koblen, ada beberapa cagar sejarah lain. Sebut saja, gedung GNI yang di sana juga ada makam Pahlawan Nasional, Dr. Soetomo. Tak jauh dari situ, berdirilah bangunan rumah ‘lawas’ yang dahulu (tahun 1933) menjadi markas redaksi majalah Panjebar Semangat; sebuah majalah berbahasa Jawa. Ada lagi, sebuah rumah jadul milik HOS Tjokroaminoto yang pernah ditempati Soekarno saat masih bersekolah di HIS. Tentu, keberadaan tempat-tempat bersejarah itu, memperkaya budaya kota Surabaya. Apapun, kelestarian cagar budaya, lebih-lebih kaya cerita sejarah, patut dijaga dan dilestarikan. Kenapa? Karena segala yang bersifat historis, selalu menjadi santapan renyah bagi kalangan kekinian. Semoga…

Selasa, 18 Desember 2012

Kiai Abdus Salam




Ketinggian ilmu berbaur dengan keluhuran moral

Perang Diponegoro (1825-1830), memunculkan plot baru dalam babak sejarah perjuangan kaum bangsawan di tanah Jawa. Posisi dan kedudukan Belanda lebih digdaya. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak mereka. Tetapi, di sisi lain, ada gurat kekecewaan mendalam bagi para pasukan Diponegoro. Mereka tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Secara politis, kekuasaan berpindah ke tangan Belanda; di bawah kendali Jenderal De Kock. Akibatnya, keberadaan pasukan Pangeran Diponegoro menjadi terjepit. Melakukan pelarian, bisa menjadi opsi ideal bagi sebagian besar mereka; kecuali kalau ingin mati atau terkurung di tahanan Belanda. Sedangkan Pangeran Diponegoro sendiri, ditangkap oleh Belanda.
                                                *********************
Cikal bakal pesantren Tambakberas Jombang, bermula pada sekitar tahun 1827. Saat itu, desa tersebut masih lebat dengan hutan belantaranya. Semak belukar liar meranggas di mana-mana. Suasan desa masih sepi. Pemukiman penduduk desa masih terbilang berjauhan satu sama lain.  

Di saat seperti ini, datanglah seorang pendakwah agama. Ia seorang pelarian dari Perang Jawa, Diponegoro. Siapa namanya? Dialah KH. Abdus Salam. Sesungguhnya, ia bukan hanya seorang pendakwah agama. Kiai Abdus Salam, bisa dibilang pula, seorang pendekar. Ia punya ketinggian ilmu bela diri, dan bahkan kanugaran. Semuanya lalu termanifestasikan ke dalam keluhuran budi pekerti dan kerendahan hatinya.
Kiai Abdus Salam, melarikan diri usai takluknya pasukan Pangeran Diponegoro di tangan Belanda. Kekalahan dalam perang Jawa itu, bagai palu gadam. Amat telak pukulannya. Terlebih, posisi Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda. Lalu, sebagian besar pengikut pangeran yang tidak ditangkap, menyebar ke berbagai tempat. Salah satunya, yaitu Kiai Abdus Salam. Dari Tegalrejo, ia dan kawanannya, bergerak menuju timur. Tempat yang ia sasar, yaitu Tambakberas. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian khalayak.
Ada satu misi yang ingin ia kembangkan, yaitu dakwah Islam.
Bersama beberapa pengikutnya ia lalu membangun sebuah perkampungan santri. Hunian sederhana itu, terdiri dari langgar (mushalla) dan tempat pemondokan sementara, untuk 25 orang pengikutnya. Karena pesantren saat itu hanya dihuni 25 orang, maka dikenal dengan Pondok Selawe (dua puluh lima).  
Kiai Abdus Salam masih berada dalam garis keturunan Prabu Brawijaya, salah seorang raja Dinasti Majapahit. Lebih jelasnya, Abdus Salam adalah putera dari Abdul Jabar, putera Ahmad, putera Pangeran Sumbu, putera Pangeran Benowo, putera Jaka Tingkir (Mas Karebet), putera Lembu Peteng, putera Brawijaya V (raja Majapahit ketujuh).    
Nama Kiai Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Shoichah atau Kyai Shoichah. Beliau kemudian menikahi seorang puteri dari kota Demak, yaitu Muslimah. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai beberapa putera dan puteri. Mereka antara lain: Layyinah, Fatimah, Abu Bakar, Marfu’ah, Jama’ah, Mustaharoh, Ali Ma’un, Fatawi, dan Abu Syakur.
Pasca berpulangnya Kyai Usman dan Kyai Said ke rahmatullah, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Chasbulloh. Ia seorang putera Kiai Said. Ini berbeda dengan yang dialami Kiai Usman. Beliau tidak berketurunan seorang putera sebagai penerus. Oleh sebab itu, seluruh santri yang beliau asuh, lalu diboyong menuju pondok barat di bawah asuhan Kiai Chasbulloh. Dalam mengembangkan pesantren, Kiai Chasbulloh ditemani seorang istri setia, yaitu Nyai Latifah (asalnya Aisyah) yang berasal dari desa Tawangsari, Sepanjang Sidoarjo.  
                                                   **********
Di tengah ketenangan dan kedamaian suasana batin Abdus Salam selepas menaklukkan semak dan mendidik santri, ternyata pihak penjajah, Belanda, merasa terancam. Belanda khawatir Abdus Salam akan menghimpun bala kekuatan untuk menentangnya jika pesantrennya terus berkembang. Dari kekhawatiran ini, Belanda berkali-kali mencoba memanggil Abdus Salam. Namun, naluri sebagai seorang mantan pasukan perang Pangeran Diponegoro, membuatnya tidak cepat merespon untuk memenuhi panggilan tersebut. Abdus Salam tahu bahwa, jika memiliki keinginan, maka Belanda akan menggunakan berbagai cara, termasuk memanggil seseorang untuk berunding. Ujung-ujungnya, itu hanya untuk memantapkan posisinya dalam menjajah negeri ini.
Dikisahkan, tiga kali Belanda mencoba memanggil Abdus Salam. Pada panggilan pertama dan kedua pihak Belanda kembali dengan tangan hampa. Kiai Abdus Salam sama sekali tak mengindahkan pemanggilan tersebut. Dua kali pemanggilan “baik-baik” tidak mau datang, Belanda menganggap Kiai Abdus Salam telah membangkang dan menentang mereka. Maka, pada pemanggilan ketiga, Belanda memerintahkan utusannya agar mampu membawa Kiai Abdus Salam hidup atau mati. Jika masih saja membangkang, maka harus dipaksa.  
Kiai Abdus Salam sendiri, juga jengah karena merasa ketenangannya dalam berdakwah terusik oleh Belanda.
Pada pemanggilan ketiga Belanda mengirim kurir yang gagah berani dengan mengendarai bendi. Sesuai dengan misi tugasnya untuk menghadirkan Abdus Salam dalam keadaan apapun, kurir itu berkata kepada Abdus Salam dengan kata-kata kasar dan memaksa. Kiai Abdus Salam yang sudah kesal terhadap Belanda tersingfung, lalu spontan membentak kurir tersebut, “Kurang ajar”, begitu kira-kira.
Keajaiban terjadi, begitu kata-kata bentakan itu dilontarkan Abdus Salam, kurir belanda itu langsung klenger, mati bersama kuda yang ia tunggangi.
Cerita tentang Abdus Salam dan tewasnya kurir Belanda tersebut cepat tersebar luas ke masyarakat. Sejak saat itulah, Kiai Abdus Salam mendapat sebutan Shoichah, atau “Mbah Shoichah”, yang artinya bentakan. Kiai Abdus Salam hingga kini tetap dikenal, dikenang, dan dihormati sebagai Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Dari Kiai Abdus Salam atau Mbah Shoichah dan istrinya, Nyai Muslimah, kelak melahirkan keturunan ulama-ulama besar. Seperti sebut saja, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (founding father dan Rais Akbar NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri dan Rais ‘Am pertama NU), KH Abdul Wahid Hasyim (Tokoh NU dan Mantan Menteri Agama RI), KH Muhammad Wahib Wahab (Tokoh NU, Mantan Menteri Urusan Kerja Sama Sipil-Militer RI, dan Mantan Menteri Agama RI), KH. Abdurrahman Wahid (Mantan Ketua Umum PBNU dan Mantan Presiden RI), dan lain-lain. (Diolah dan diedit dari berbagai sumber).

Kiai Abdus Salam



Ketinggian ilmu berbaur dengan keluhuran moral

Perang Diponegoro (1825-1830), memunculkan plot baru dalam babak sejarah perjuangan kaum bangsawan di tanah Jawa. Posisi dan kedudukan Belanda lebih digdaya. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak mereka. Tetapi, di sisi lain, ada gurat kekecewaan mendalam bagi para pasukan Diponegoro. Mereka tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Secara politis, kekuasaan berpindah ke tangan Belanda; di bawah kendali Jenderal De Kock. Akibatnya, keberadaan pasukan Pangeran Diponegoro menjadi terjepit. Melakukan pelarian, bisa menjadi opsi ideal bagi sebagian besar mereka; kecuali kalau ingin mati atau terkurung di tahanan Belanda. Sedangkan Pangeran Diponegoro sendiri, ditangkap oleh Belanda.
                                                *********************
Cikal bakal pesantren Tambakberas Jombang, bermula pada sekitar tahun 1827. Saat itu, desa tersebut masih lebat dengan hutan belantaranya. Semak belukar liar meranggas di mana-mana. Suasan desa masih sepi. Pemukiman penduduk desa masih terbilang berjauhan satu sama lain.  
Di saat seperti ini, datanglah seorang pendakwah agama. Ia seorang pelarian dari Perang Jawa, Diponegoro. Siapa namanya? Dialah KH. Abdus Salam. Sesungguhnya, ia bukan hanya seorang pendakwah agama. Kiai Abdus Salam, bisa dibilang pula, seorang pendekar. Ia punya ketinggian ilmu bela diri, dan bahkan kanugaran. Semuanya lalu termanifestasikan ke dalam keluhuran budi pekerti dan kerendahan hatinya.
Kiai Abdus Salam, melarikan diri usai takluknya pasukan Pangeran Diponegoro di tangan Belanda. Kekalahan dalam perang Jawa itu, bagai palu gadam. Amat telak pukulannya. Terlebih, posisi Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda. Lalu, sebagian besar pengikut pangeran yang tidak ditangkap, menyebar ke berbagai tempat. Salah satunya, yaitu Kiai Abdus Salam. Dari Tegalrejo, ia dan kawanannya, bergerak menuju timur. Tempat yang ia sasar, yaitu Tambakberas. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian khalayak.
Ada satu misi yang ingin ia kembangkan, yaitu dakwah Islam.
Bersama beberapa pengikutnya ia lalu membangun sebuah perkampungan santri. Hunian sederhana itu, terdiri dari langgar (mushalla) dan tempat pemondokan sementara, untuk 25 orang pengikutnya. Karena pesantren saat itu hanya dihuni 25 orang, maka dikenal dengan Pondok Selawe (dua puluh lima).  
Kiai Abdus Salam masih berada dalam garis keturunan Prabu Brawijaya, salah seorang raja Dinasti Majapahit. Lebih jelasnya, Abdus Salam adalah putera dari Abdul Jabar, putera Ahmad, putera Pangeran Sumbu, putera Pangeran Benowo, putera Jaka Tingkir (Mas Karebet), putera Lembu Peteng, putera Brawijaya V (raja Majapahit ketujuh).    
Nama Kiai Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Shoichah atau Kyai Shoichah. Beliau kemudian menikahi seorang puteri dari kota Demak, yaitu Muslimah. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai beberapa putera dan puteri. Mereka antara lain: Layyinah, Fatimah, Abu Bakar, Marfu’ah, Jama’ah, Mustaharoh, Ali Ma’un, Fatawi, dan Abu Syakur.
Pasca berpulangnya Kyai Usman dan Kyai Said ke rahmatullah, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Chasbulloh. Ia seorang putera Kiai Said. Ini berbeda dengan yang dialami Kiai Usman. Beliau tidak berketurunan seorang putera sebagai penerus. Oleh sebab itu, seluruh santri yang beliau asuh, lalu diboyong menuju pondok barat di bawah asuhan Kiai Chasbulloh. Dalam mengembangkan pesantren, Kiai Chasbulloh ditemani seorang istri setia, yaitu Nyai Latifah (asalnya Aisyah) yang berasal dari desa Tawangsari, Sepanjang Sidoarjo.  
                                                   **********
Di tengah ketenangan dan kedamaian suasana batin Abdus Salam selepas menaklukkan semak dan mendidik santri, ternyata pihak penjajah, Belanda, merasa terancam. Belanda khawatir Abdus Salam akan menghimpun bala kekuatan untuk menentangnya jika pesantrennya terus berkembang. Dari kekhawatiran ini, Belanda berkali-kali mencoba memanggil Abdus Salam. Namun, naluri sebagai seorang mantan pasukan perang Pangeran Diponegoro, membuatnya tidak cepat merespon untuk memenuhi panggilan tersebut. Abdus Salam tahu bahwa, jika memiliki keinginan, maka Belanda akan menggunakan berbagai cara, termasuk memanggil seseorang untuk berunding. Ujung-ujungnya, itu hanya untuk memantapkan posisinya dalam menjajah negeri ini.
Dikisahkan, tiga kali Belanda mencoba memanggil Abdus Salam. Pada panggilan pertama dan kedua pihak Belanda kembali dengan tangan hampa. Kiai Abdus Salam sama sekali tak mengindahkan pemanggilan tersebut. Dua kali pemanggilan “baik-baik” tidak mau datang, Belanda menganggap Kiai Abdus Salam telah membangkang dan menentang mereka. Maka, pada pemanggilan ketiga, Belanda memerintahkan utusannya agar mampu membawa Kiai Abdus Salam hidup atau mati. Jika masih saja membangkang, maka harus dipaksa.  
Kiai Abdus Salam sendiri, juga jengah karena merasa ketenangannya dalam berdakwah terusik oleh Belanda.
Pada pemanggilan ketiga Belanda mengirim kurir yang gagah berani dengan mengendarai bendi. Sesuai dengan misi tugasnya untuk menghadirkan Abdus Salam dalam keadaan apapun, kurir itu berkata kepada Abdus Salam dengan kata-kata kasar dan memaksa. Kiai Abdus Salam yang sudah kesal terhadap Belanda tersinggung, lalu spontan membentak kurir tersebut, “Kurang ajar”, begitu kira-kira.
Keajaiban terjadi, begitu kata-kata bentakan itu dilontarkan Abdus Salam, kurir belanda itu langsung klenger, mati bersama kuda yang ia tunggangi.
Cerita tentang Abdus Salam dan tewasnya kurir Belanda tersebut cepat tersebar luas ke masy`rakat. Sejak saat itulah, Kiai Abdus Salam mendapat sebutan Shoichah, atau “Mbah Shoichah”, yang artinya bentakan. Kiai Abdus Salam hingga kini tetap dikenal, dikenang, dan dihormati sebagai Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Dari Kiai Abdus Salam atau Mbah Shoichah dan istrinya, Nyai Muslimah, kelak melahirkan keturunan ulama-ulama besar. Seperti sebut saja, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (founding father dan Rais Akbar NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri dan Rais ‘Am pertama NU), KH Abdul Wahid Hasyim (Tokoh NU dan Mantan Menteri Agama RI), KH Muhammad Wahib Wahab (Tokoh NU, Mantan Menteri Urusan Kerja Sama Sipil-Militer RI, dan Mantan Menteri Agama RI), KH. Abdurrahman Wahid (Mantan Ketua Umum PBNU dan Mantan Presiden RI), dan lain-lain. (Diolah dan diedit dari berbagai sumber).

Jumat, 07 Desember 2012

SERI WALI SONGO (1)

Syekh Maulana Malik Ibrahim

Siapa sih yang tidak mengenal nama salah satu wali songo ini? Namanya, Syekh Maulana Malik Ibrahim. Siapakah dia? Apa jasa-jasanya? Ikuti paparan biografi Syekh yang satu ini!
Menurut sumber sejarah, Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M. Sebenarnya jauh sebelum kedatangannya, di Gresik telah ada komunitas muslim. Hanya, jumlah mereka tidaklah seberapa. Terbukti, dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang wafat pada tahun 475 Hijriyah atau tahun 1082 M.
13541772292123356374
makam Siti Fatimah binti Maimun
Syekh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 1419, merupakan seorang pakar tata negara ulung. Inskripsi yang terdapat pada batu nisannya, membuktikan hal itu. Ada sejumlah lafal Arab yang tertulis pada batu nisannya.Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti demikian:
“Inilah makam almarhum almaghfurlah yang berharap rahmat Tuhan kebanggaan para Pangeran, sendi para sultan dan para menteri. Ia juga penolong kaum fakir miskin yang berbahagia lagi syahid cemerlangnya simbol negara dan agama. Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kake Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat dan keridhaan-Nya. Ia pula dimasukkan ke dalam surga Allah. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 Hijriyah.
Inilah bunyi tulisan yang tertulis pada nisan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Penduduk pribumi mengenalnya sebagai Kakek Bantal.
Ini membuktikan bahwa pada masa itu, ia berdakwah dengan cara yang bijaksana lagi santun. Masyarakat sekitarnya—lebih-lebih kalangan grass root—pun senang dengan cara dakwah yang ia tunjukkan.
Ia dapat dengan mudah menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat sekitarnya.
Agama dan adat istiadat lama, tidak langsung ia tentang secara frontal dan dan kaku. Semuanya, ia hadapi dengan ketinggian akhlak dan tetap membumi. Metode dakwahnya, yaitu langsung mencontohkan segala budi pekerti yang baik kepada masyarakat. Tutur bahasanya sopan dan lemah lembut. Ia selalu santun kepada kaum fakir miskin dan hormat kepada yang lebih tua; pun selalu menyayangi kaum muda.
Cara seperti itu, ternyata bisa membuat pribumi Jawa mulai tertarik pada agama Islam. Pada akhirnya, mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.
Pada masa itu, di Pulau Jawa, ada sebuah imperium besar bernama Wilwatikta atau Majapahit. Pusat kerajaannya ada di kotapraja Trowulan Mojokerto. Tetapi sesungguhnya, secara politis, ketika pada abad-15, Majapahit telah banyak mengalami rongrongan, baik dari luar; lebih-lebih dari dalam.
Pasca ditinggalkan Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, kekuatan Majapahit melambat makin menurun. Majapahit sering mengalami perang saudara yang tak berkesudahan. Rakyat jelata akhirnya menjadi korban. Sisi lain, banyak kerajaan bawahan yang sebelumnya tunduk pada Majapahit, kini banyak yang memisahkan diri. Kesetiaan para pembesar dan para adipati pun mulai menurun. Banyak upeti kerajaan yang tidak sampai di tangan raja, melainkan bertumpuk di kediaman para pembesar dan para adipati. Kejahatan merebak di mana-mana. Banyak perampok dan pencuri melakukan aksi kejahatannya. Ironisnya, banyak pula kesatuan prajurit yang melepaskan diri dan beralih menjadi gerombolan perampok; mereka menggarong harta rakyat jelata.
Tak jarang, saat sedang berdakwah keliling desa, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Kakek Bantal dan para muridnya diganggu oleh gerombolan perampok. Lalu, dengan ketinggian akhlak dan kesigapannya, para perampok itu dengan mudah ditaklukkan.
—————————————- || —————————————
Syekh Maulana Malik Ibrahim—dalam sejarah perwalian wali songo—merupakan wali tertua dari jajaran sembilan wali atau wali songo.
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarqandi, diperkirakan terlahir di Samarkand, Asia Tengah, pada abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya dengan Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, lalu berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim, kadang juga disebut sebagai Syekh Maghribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak; ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Syekh Maulana Jumadil Kubro ini diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Sayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Dan, makam dari Syekh Maulana Jumadil Kubro ini ada di kompleks pemakaman Troloyo, Trowulan, Mojokerto.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja. Di sana, ia tinggal selama 13 tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392, Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ia tuju pertama kali, yaitu desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran yang terletak di kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang ia lakukan saat itu, berdagang. Berdagang apa? Ia membuka warung yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu, secara khusus, Syekh juga menyempatkan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan, ia seorang permaisuri yang masih terhitung kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat kasta bawah yang tersisih dalam agama Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya,, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Suatu hari, saat selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M, Syekh Maulana Malik Ibrahim berpulang ke rahmatullah. Makamnya terletak di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
13541768071881307545
makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik
13541768591582613834
sisi depan makam
* Semoga Allah senantiasa menempatkannya pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Amin*

Alkisah dari Desa Tambakberas abad 19

Sebuah kisah

Dulu, dulu sekali, desa Tambakberas hanyalah berupa belantara. Di mana-mana, rerimbunan pepohonan tumbuh. Semak belukar meranggas liar. Sungai, aliran airnya masih jernih membening dan melebar sisi-sisinya.
Saat itu, sekitar abad pertengahan 19, salah seorang murid Pangeran Diponegoro, Kiai Abdus Salam, melarikan diri dari kejaran Belanda. Ia dan kawan-kawannya, menjadi incaran tentara kompeni sesaat setelah Perang Diponegoro. Daerah yang ia tuju, desa Tambakberas.
Saat itu, desa tersebut masih sepi penghuni. Alas masih mendominasi alam Tambakberas.Namun, pada waktu itu, ia dan sejumlah rekannya, punya sebuah keinginan. Apa itu? Kiai Abdus Salam, ingin mendirikan sebuah pesantren. Ia berharap, kelak, melalui pesantren yang ia dirikan, bisa melahirkan kader-kader agama yang kompeten dan piawai dalam mengejawantahkan ajaran-ajaran agama; dengan segala kearifan dan keluhuran budi pekerti.
Pesantren itu awalnya hanya berupa bangunan membujur utara selatan. Panjangnya kira-kira 15 meter. Dari utara-selatan, ada sekitar 5 buah kamar. Setiap kamar, diisi sekitar 5 orang santri, awalnya. Maka, kemudian ada penamaan, pesantren itu disebut pondok "nyelawe", yang artinya pesantren yang dihuni oleh 25 orang santri.
Saat itu, negeri Indonesia belumlah merdeka. Pemerintah kolonial Belanda masih pongah menguasai negeri yang amat subur ini. Kekejamannya tak lagi bisa dilukiskan dengan tuangan kata-kata apapun. Kiai Abdus Salam menyadari, di Tambakberas, ia dan para santrinya tidak hanya berjuang di jalan Allah. Lebih dari itu, mereka juga berjuang melawan Pemerintahan Kolonial Belanda.

Singkat kisah, Kiai Abdus Salam telah menanamkan dasar-dasar ajaran keislaman di tanah Jombang. Khususnya di tanah desa Tambakberas. Menurut sebuah kisah lain, Tambakberas ketika itu, penuh dengan orang-orang jahat. Madat, minum, main perempuan, menjadi kelumrahan sehari-hari. Maka, ia juga turut berjuang menghilangkan hal-hal buruk yang sudah berakar kuat di desa tersebut.

Kiai Abdus Salam, pendahulu para kiai tersohor di Jombang.

Salam

Jumat, 30 November 2012

Jelang Grande Partita

Malay(SIAL) kontra Indonesia

Harus menang. Kalimat itulah yang pantas menggambarkan matchday terakhir Grup B Piala AFF 2012 antara Malaysia dan Indonesia di Stadion Bukit Jalil, Sabtu (1/12/2012). Indonesia memang hanya membutuhkan hasil imbang untuk dapat lolos ke babak semifinal. Namun, bertemu Malaysia situsinya berbeda. Berbicara rivalitas sejati, tiga poin jelas adalah harga mati. 

Rivalitas indonesia dan Malaysia memang menjadi perseteruan yang kental akan aroma rivalitas tinggi. Terjalin dari sejarah panjang kedua negara tersebut dengan dilatari aneksasi sosial kebudayaan dan otoritas kedaulatan, membuat semangat gelora saling “bunuh” selalu menghinggapi sampai ranah sepak bola.

Lihat saja, bagaimana ratusan juta publik Indonesia geram dengan tingkah tak sportif para pendukung Malaysia yang menyorotkan sinar laser hijau ke wajah kiper timnas Indonesia, yang ketika itu dikawal Markus Horison, dalam final Piala AFF 2010.Belum lagi ulah ribuan suporter Malaysia yang acap menyanyi dengan lirik bernada pelecehan kepada Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ejekan itu pun bahkan membuat ratusan juta masyarakat Indonesia berkomentar pedas mengenai peristiwa itu. Dari mulai pejabat, artis, hingga masyarakat wong cilik, dapat memberikan komentarnya sendiri mengenai ulah suporter Malaysia, yang menjadi marak karena disebar disebarkan luaskan lewat situs YouTube tersebut. 

Namun, sejatinya hal itu ibarat bumbu penyedap rivalitas Indonesia dan Malaysia. Karena, pertarungan sebenarnya akan dilakoni tokoh utama, yaitu 22 penggawa timnas Garuda. Mereka akan bermandikan peluh keringat demi berjuang hingga titik darah penghabisan di stadion yang berkapasitas 100.000 ribu penonton di Kuala Lumpur, demi mewujudkan doa dan harapan ratusan juta rakyat Indonesia.

“Kami akan bekerja keras untuk menghadapi dan menang melawan Malaysia, apalagi partai itu bukan hanya untuk memastikan lolos ke semifinal, melainkan juga menyangkut harkat dan martabat bangsa Indonesia,” ujar salah satu gelandang timnas, Taufiq.

Peluang
Kini, Indonesia berada di puncak klasemen sementara dengan poin empat (selisih gol +1) atau unggul satu angka atas Singapura dengan poin tiga (+2). Malaysia berada di posisi ketiga dengan poin tiga (0), kalah selisih gol dengan The Lions. Sementara, Laos menduduki dasar klasemen dengan poin satu (-3).

Keempat negara itu masih berpeluang lolos ke babak semifinal. Jika Indonesia dan Malaysia berakhir imbang, sementara Singapura mampu mengalahkan Laos, yang akan melaju adalah Singapura, karena Malaysia kalah selisih gol. Namun, Harimau Malaya dapat lolos jika bermain imbang dengan Indonesia, dengan syarat Laos mampu mengalahkan Singapura dengan selisih gol kurang dari tiga.

Sementara, Laos masih dapat lolos ke semifinal jika menang atas Singapura dengan selisih lebih dari tiga gol dan pada saat bersamaan Malaysia bermain imbang dengan Indonesia. Akan tetapi, Laos dapat lolos dengan kemenangan selisih gol berapa pun jika Malaysia berhasil ditaklukkan skuad Merah Putih.

Pelatih timnas Indonesia, Nil Maizar, mengaku tak ingin terlalu memusingkan peluang lolos atau tidaknya anak asuhnya. Menurut mantan pelatih Semen Padang tersebut, yang terpenting saat ini Irfan Bachdim dan kawan-kawan harus tampil maksimal meraih hasil terbaik dalam pertandingan nanti .

“Setiap pemain dan pelatih pasti ingin menang. Tetapi, saya selalu bilang kepada pemain, soal hasil itu urusan Allah. Yang terpenting, bagaimana mereka bekerja keras sampai wasit meniupkan peluit panjang,” kata Nil.

Siap
Terkait kondisi pemain, Nil mengaku timnya dalam kondisi siap tempur melawan Malaysia. Hanya bek tengah, Wahyu Wijiastanto yang harus absen karena akumulasi kartu kuning. Sementara, Tonnie Cusell dan Johnny van Beukering kondisinya masih diragukan tampil karena masih dalam kondisi pemulihan dari cedera.

“Sekarang kami punya stok tiga pemain belakang untuk menggantikan Wahyu. Tetapi, siapa pun yang akan mengisi posnya, kita lihat besok (Sabtu ini) sebelum pertandingan. Sekarang, tim pelatih akan menentukan strategi,” ungkapnya.

Nil mengatakan, dalam pertandingan nanti, dirinya akan mewaspadai kecepatan gelandang-gelandang milik Malaysia yang tampil dalam dua pertandingan terakhir melawan Singapura dan Laos. Salah satu pemain yang patut diwaspadai oleh Indonesia adalah kapten tim, Mohammad Safiq Rahim.

Meski demikian, Nil mengaku akan tetap tampil maksimal untuk meraih hasil terbaik dalam pertandingan tersebut. Apalagi, Andik Vermansyah dan kawan-kawan menunjukan progres meningkat dengan semangat tinggi setelah bermain imbang 2-2 lawan Laos dan menang 1-0 atas Singapura.

“Saya harapkan nanti penampilan anak-anak tersebut bisa diulangi ketika melawan Malaysia agar kita dapat lolos ke semifinal,” harap Nil.

Kalah
Pelatih Malaysia, K Rajagobal tidak mau kalah dengan Indonesia. Pelatih berusia 56 tahun tersebut optimistis anak asuhnya dapat mengalahkan Indonesia di partai yang akan disiarkan langsung oleh RCTI, Sabtu malam ini, mulai pukul 19.45 WIB tersebut.

“Saya ingin tim ini bermain seperti saat mengalahkan Laos (4-1). Kemenangan itu telah memberikan kepercayaan diri kepada pemain kami untuk mengalahkan Indonesia dalam pertandingan nanti,” kata Rajagobal.

Terkait komposisi pemain, Rajagobal tidak akan mengubah banyak strategi skuadnya. Menurut pelatih yang membawa Malaysia juara Piala AFF 2010 itu, timnya akan mewaspadai lini tengah Indonesia yang dinilainya cukup berbahaya karena memiliki kecepatan dan determinasi yang sangat baik.

“Andik, Taufiq, Okto dan Elie adalah pemain hebat. Begitu juga dengan Bambang Pamungkas. Anda harus mewaspadai pemain-pemain itu. Akan tetapi, yang menjadi perhatian kami sekarang adalah hanya cara memikirkan bagaimana memenangi pertandingan atas Indonesia,” tegas Rajagobal.

Perkiraan Susunan Pemain
Malaysia (4-4-2):
Farizal Marlias; Jasuli, Aidil Zaufan, Fadhli Shas, Zubir Azmi; Wan Zack Haikal, Safiq Rahim, Shakir Shaari, Azamuddin Akil; Norsharul Idlan, Safee Sali
Pelatih: K Rajagobal

Indonesia (4-4-2): Endra Prasetya,  Raphael Maitimo, Handi Ramdhan, Fachrudin, Novan Setya; Elie Aiboy, Vendry Mofu, Taufiq, Oktovianus Maniani; Irfan Bachdim, Bambang Pamungkas
Pelatih: Nil Maizar

Lima Pertemuan Terakhir
23/8/2006 - Malaysia 1-1 Indonesia (uji coba)
6/6/2008 - Indonesia 1-1 Malaysia (uji coba)
1/12/2012 - Indonesia 5-1 Malaysia (AFF 2010)
26/12/2010 - Malaysia 3-0 Indonesia (AFF 2010)
29/12/2010 - Indonesia 2-1 Malaysia (AFF 2010)

Kamis, 29 November 2012

Seri Wali Songo (Part 2)







SUNAN KALIJAGA
Nah, kali ini, kita akan meluncur ke daratan Jawa bagian tengah. Tepatnya, ke kota Demak. Kota ini, dahulu pernah dihuni oleh seorang waliyullah. Dia bernama Raden Said. Ingin tahu lebih lengkap ceritanya? Silakan habiskan kopi dulu, lalu kita pelan-pelan menapaktilasinya. Ini dia…
                                                                ********
Sunan Kalijaga, merupakan salah satu tokoh dalam jajaran Wali Songo. Ia dikenal karena kepiawaiannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Sebagian dari kita, mungkin menyebutnya dengan asimilasi budaya Jawa dengan ajaran Islam.
Sunan Kalijaga punya usia yang cukup panjang. Diperkirakan usianya mencapai lebih dari 100 tahun. Jadi, ia mengalami masa-masa akhir kekuasaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, dan Banten. Bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546, serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Sunan Kalijaga ikut pula mendesain konstruksi Masjid Agung Cirebon maupun Masjid Agung Demak. Salah satu kreasinya, yaitu adanya Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid.

Tahun kelahiran Sunan Kalijaga, berkisar pada tahun 1450. Saat itu, ia dinamai Raden Said. Raden Said merupakan putera adipati Tuban, namanya Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Sunan Kalijaga punya beberapa nama lain, seperti: Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Ketika Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Bicara mengenai asal-usul sang sunan, ada beberapa pendapat. Salah satunya mengatakan bahwa Sunan Kalijaga masih keturunan bangsa Arab. Tetapi, banyak pula yang menyatakan, ia orang Jawa asli. Van den Berg mengungkapkan bahwa Sunan Kalijaga, masih merupakan keturunan Arab yang silsilahnya sambung kepada Kanjeng Rasul Muhammad.
Ada ceritera lain lagi. Babad Tuban mengabarkan bahwa Aria Teja alias Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara. Ia lalu menikahi puterinya. Dari pernikahan mereka, lalu lahirlah seorang putera bernama Aria Wilatikta.
Tome Pires dalam catatannya, penguasa Tuban pada tahun 1500 M merupakan cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putera Aria Wilatikta. Sejarawan lain, seperti De Graaf, membenarkan bahwa Aria Teja I (Abdur Rahman) memiliki silsilah yang sambung hingga Ibnu Abbas, paman Kanjeng Rasul Muhammad. Sunan Kalijaga sendiri mempunyai tiga anak, salah satunya Umar Said atau Sunan Muria.
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga dikatakan pernah menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Dari pernikahan mereka, lahirlah 3 orang putera: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah.
Berdakwah
Dulunya, Raden Said merupakan seorang perampok yang punya gerakan licin. Ia selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan hasil bumi. Apakah semua hasil rampokannya, ia nikmati sendiri? Tidak. Hasil rampokannya, malah ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.
Suatu hari, Raden Said sedang berada di hutan. Ia lalu melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Singkat cerita, orang itu bernama Sunan Bonang. Tongkat yang sedang dibawa sang kakek, dilihatnya seperti tongkat emas. Tanpa pikir panjang, ia lalu merampas tongkat itu. Hasil rampasan paksa itu akan ia bagikan lagi kepada kaum papa. Tetapi, Kanjeng Sunan Bonang tidak membenarkan cara tersebut. Ia lalu menasehati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Sejurus kemudian, Sunan Bonang menunjukkan sebuah pohon aren emas. Sunan Bonang mengatakan, bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Tiba-tiba saja, Raden Said malah ingin menjadi murid dari Sunan Bonang.
Mendengar permintaan Raden Said, Sunan Bonang hanya diam. Ia lalu menjauhi Raden Said dan berjalan menuju sebuah sungai. Tanpa diperintah, Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke sungai. (Sekali lagi) Raden Said bersikeras bahwa ia ingin menjadi muridnya.
Karena dilihatnya, Raden Said punya itikad serius, Sunan Bonang lalu menyuruhnya untuk bersemedi. Itu tidak sekedar semedi. Raden Said juga diharuskan menjaga tongkat Sunan Bonang yang tertancap kuat di tepian sungai. Dan, Raden Said tidak boleh beranjak darh tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu menjalankan perintah tersebut.
Hari demi hari, semedia ia jalani dengan sabar. Bukan hanya hitungan hari, minggu, bulan, tetapi bahkan tahun. Hingga, membuatnya tertidur dalam waktu lama.
Karena lama tertidur, tanpa ia sadari, akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke sungai maka nama Raden Said diganti menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan orang-orang mengenalnya dengan sebutan Sunan Kalijaga.
Saat berdakwah, ada kesamaan cara antara Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang. Paham ajarannya cenderung mengarah pada "sufistik berbasis salaf"—bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Dunia seni dan budaya, Ia sasar sebagai sarana utama dalam menyebarkan misi dakwah Islamnya.
Ia sangat menyesuaikan diri dengan khazanah budaya orang-orang pribumi. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika tatanan budayanya diberangus. Maka, mereka harus didekati secara pelan-pelan: mengikuti sambil memengaruhi.
Jika Islam sudah dimengerti dengan sebaik mungkin, dengan sendirinya masyarakat pribumi akan menanggalkan kebiasaan lama mereka. Demikian yang menurut pituduh Kanjeng Sunan Kalijaga.
Sehingga, tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwahnya. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang memasyarakat seperti Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.
Kanjeng Sunan Kalijaga juga dianggap sebagah penggagas baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lansekap pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula sebagai hasil konsep Sunan Kalijaga.

Inilah silsilah Sunan Kalijaga:

Sayyidina Abbas (paman
Kanjeng Rasulullah)
                       ¯
Syekh Abdul Wahid Qornain
                    ¯
Syekh Wahid Rumi
                    ¯
Syekh Mudzakir Rumi
                    ¯
Syekh Khoromis
                    
                    ¯
Syekh Abdullah
                    ¯

Syekh Abdur Rahman
                    ¯
Ronggo Tedjo Laku atau Syekh Zali
                    ¯
Aryo Tejo
                    ¯
Raden Sahur
                    ¯
Raden Syahid (Sunan Kalijaga)


Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senopati di Mataram.

Tak lama setelah itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode para wali yang lain. 
Semoga Allah senantiasa menempatkan almarhum Kanjeng Sunan Kalijaga pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya, dan mengampuni segala dosanya. Amin