Selasa, 18 Desember 2012

Kiai Abdus Salam




Ketinggian ilmu berbaur dengan keluhuran moral

Perang Diponegoro (1825-1830), memunculkan plot baru dalam babak sejarah perjuangan kaum bangsawan di tanah Jawa. Posisi dan kedudukan Belanda lebih digdaya. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak mereka. Tetapi, di sisi lain, ada gurat kekecewaan mendalam bagi para pasukan Diponegoro. Mereka tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Secara politis, kekuasaan berpindah ke tangan Belanda; di bawah kendali Jenderal De Kock. Akibatnya, keberadaan pasukan Pangeran Diponegoro menjadi terjepit. Melakukan pelarian, bisa menjadi opsi ideal bagi sebagian besar mereka; kecuali kalau ingin mati atau terkurung di tahanan Belanda. Sedangkan Pangeran Diponegoro sendiri, ditangkap oleh Belanda.
                                                *********************
Cikal bakal pesantren Tambakberas Jombang, bermula pada sekitar tahun 1827. Saat itu, desa tersebut masih lebat dengan hutan belantaranya. Semak belukar liar meranggas di mana-mana. Suasan desa masih sepi. Pemukiman penduduk desa masih terbilang berjauhan satu sama lain.  

Di saat seperti ini, datanglah seorang pendakwah agama. Ia seorang pelarian dari Perang Jawa, Diponegoro. Siapa namanya? Dialah KH. Abdus Salam. Sesungguhnya, ia bukan hanya seorang pendakwah agama. Kiai Abdus Salam, bisa dibilang pula, seorang pendekar. Ia punya ketinggian ilmu bela diri, dan bahkan kanugaran. Semuanya lalu termanifestasikan ke dalam keluhuran budi pekerti dan kerendahan hatinya.
Kiai Abdus Salam, melarikan diri usai takluknya pasukan Pangeran Diponegoro di tangan Belanda. Kekalahan dalam perang Jawa itu, bagai palu gadam. Amat telak pukulannya. Terlebih, posisi Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda. Lalu, sebagian besar pengikut pangeran yang tidak ditangkap, menyebar ke berbagai tempat. Salah satunya, yaitu Kiai Abdus Salam. Dari Tegalrejo, ia dan kawanannya, bergerak menuju timur. Tempat yang ia sasar, yaitu Tambakberas. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian khalayak.
Ada satu misi yang ingin ia kembangkan, yaitu dakwah Islam.
Bersama beberapa pengikutnya ia lalu membangun sebuah perkampungan santri. Hunian sederhana itu, terdiri dari langgar (mushalla) dan tempat pemondokan sementara, untuk 25 orang pengikutnya. Karena pesantren saat itu hanya dihuni 25 orang, maka dikenal dengan Pondok Selawe (dua puluh lima).  
Kiai Abdus Salam masih berada dalam garis keturunan Prabu Brawijaya, salah seorang raja Dinasti Majapahit. Lebih jelasnya, Abdus Salam adalah putera dari Abdul Jabar, putera Ahmad, putera Pangeran Sumbu, putera Pangeran Benowo, putera Jaka Tingkir (Mas Karebet), putera Lembu Peteng, putera Brawijaya V (raja Majapahit ketujuh).    
Nama Kiai Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Shoichah atau Kyai Shoichah. Beliau kemudian menikahi seorang puteri dari kota Demak, yaitu Muslimah. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai beberapa putera dan puteri. Mereka antara lain: Layyinah, Fatimah, Abu Bakar, Marfu’ah, Jama’ah, Mustaharoh, Ali Ma’un, Fatawi, dan Abu Syakur.
Pasca berpulangnya Kyai Usman dan Kyai Said ke rahmatullah, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Chasbulloh. Ia seorang putera Kiai Said. Ini berbeda dengan yang dialami Kiai Usman. Beliau tidak berketurunan seorang putera sebagai penerus. Oleh sebab itu, seluruh santri yang beliau asuh, lalu diboyong menuju pondok barat di bawah asuhan Kiai Chasbulloh. Dalam mengembangkan pesantren, Kiai Chasbulloh ditemani seorang istri setia, yaitu Nyai Latifah (asalnya Aisyah) yang berasal dari desa Tawangsari, Sepanjang Sidoarjo.  
                                                   **********
Di tengah ketenangan dan kedamaian suasana batin Abdus Salam selepas menaklukkan semak dan mendidik santri, ternyata pihak penjajah, Belanda, merasa terancam. Belanda khawatir Abdus Salam akan menghimpun bala kekuatan untuk menentangnya jika pesantrennya terus berkembang. Dari kekhawatiran ini, Belanda berkali-kali mencoba memanggil Abdus Salam. Namun, naluri sebagai seorang mantan pasukan perang Pangeran Diponegoro, membuatnya tidak cepat merespon untuk memenuhi panggilan tersebut. Abdus Salam tahu bahwa, jika memiliki keinginan, maka Belanda akan menggunakan berbagai cara, termasuk memanggil seseorang untuk berunding. Ujung-ujungnya, itu hanya untuk memantapkan posisinya dalam menjajah negeri ini.
Dikisahkan, tiga kali Belanda mencoba memanggil Abdus Salam. Pada panggilan pertama dan kedua pihak Belanda kembali dengan tangan hampa. Kiai Abdus Salam sama sekali tak mengindahkan pemanggilan tersebut. Dua kali pemanggilan “baik-baik” tidak mau datang, Belanda menganggap Kiai Abdus Salam telah membangkang dan menentang mereka. Maka, pada pemanggilan ketiga, Belanda memerintahkan utusannya agar mampu membawa Kiai Abdus Salam hidup atau mati. Jika masih saja membangkang, maka harus dipaksa.  
Kiai Abdus Salam sendiri, juga jengah karena merasa ketenangannya dalam berdakwah terusik oleh Belanda.
Pada pemanggilan ketiga Belanda mengirim kurir yang gagah berani dengan mengendarai bendi. Sesuai dengan misi tugasnya untuk menghadirkan Abdus Salam dalam keadaan apapun, kurir itu berkata kepada Abdus Salam dengan kata-kata kasar dan memaksa. Kiai Abdus Salam yang sudah kesal terhadap Belanda tersingfung, lalu spontan membentak kurir tersebut, “Kurang ajar”, begitu kira-kira.
Keajaiban terjadi, begitu kata-kata bentakan itu dilontarkan Abdus Salam, kurir belanda itu langsung klenger, mati bersama kuda yang ia tunggangi.
Cerita tentang Abdus Salam dan tewasnya kurir Belanda tersebut cepat tersebar luas ke masyarakat. Sejak saat itulah, Kiai Abdus Salam mendapat sebutan Shoichah, atau “Mbah Shoichah”, yang artinya bentakan. Kiai Abdus Salam hingga kini tetap dikenal, dikenang, dan dihormati sebagai Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Dari Kiai Abdus Salam atau Mbah Shoichah dan istrinya, Nyai Muslimah, kelak melahirkan keturunan ulama-ulama besar. Seperti sebut saja, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (founding father dan Rais Akbar NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri dan Rais ‘Am pertama NU), KH Abdul Wahid Hasyim (Tokoh NU dan Mantan Menteri Agama RI), KH Muhammad Wahib Wahab (Tokoh NU, Mantan Menteri Urusan Kerja Sama Sipil-Militer RI, dan Mantan Menteri Agama RI), KH. Abdurrahman Wahid (Mantan Ketua Umum PBNU dan Mantan Presiden RI), dan lain-lain. (Diolah dan diedit dari berbagai sumber).

Kiai Abdus Salam



Ketinggian ilmu berbaur dengan keluhuran moral

Perang Diponegoro (1825-1830), memunculkan plot baru dalam babak sejarah perjuangan kaum bangsawan di tanah Jawa. Posisi dan kedudukan Belanda lebih digdaya. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak mereka. Tetapi, di sisi lain, ada gurat kekecewaan mendalam bagi para pasukan Diponegoro. Mereka tidak berhasil mengalahkan pasukan Belanda. Secara politis, kekuasaan berpindah ke tangan Belanda; di bawah kendali Jenderal De Kock. Akibatnya, keberadaan pasukan Pangeran Diponegoro menjadi terjepit. Melakukan pelarian, bisa menjadi opsi ideal bagi sebagian besar mereka; kecuali kalau ingin mati atau terkurung di tahanan Belanda. Sedangkan Pangeran Diponegoro sendiri, ditangkap oleh Belanda.
                                                *********************
Cikal bakal pesantren Tambakberas Jombang, bermula pada sekitar tahun 1827. Saat itu, desa tersebut masih lebat dengan hutan belantaranya. Semak belukar liar meranggas di mana-mana. Suasan desa masih sepi. Pemukiman penduduk desa masih terbilang berjauhan satu sama lain.  
Di saat seperti ini, datanglah seorang pendakwah agama. Ia seorang pelarian dari Perang Jawa, Diponegoro. Siapa namanya? Dialah KH. Abdus Salam. Sesungguhnya, ia bukan hanya seorang pendakwah agama. Kiai Abdus Salam, bisa dibilang pula, seorang pendekar. Ia punya ketinggian ilmu bela diri, dan bahkan kanugaran. Semuanya lalu termanifestasikan ke dalam keluhuran budi pekerti dan kerendahan hatinya.
Kiai Abdus Salam, melarikan diri usai takluknya pasukan Pangeran Diponegoro di tangan Belanda. Kekalahan dalam perang Jawa itu, bagai palu gadam. Amat telak pukulannya. Terlebih, posisi Pangeran Diponegoro yang ditangkap oleh Belanda. Lalu, sebagian besar pengikut pangeran yang tidak ditangkap, menyebar ke berbagai tempat. Salah satunya, yaitu Kiai Abdus Salam. Dari Tegalrejo, ia dan kawanannya, bergerak menuju timur. Tempat yang ia sasar, yaitu Tambakberas. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian khalayak.
Ada satu misi yang ingin ia kembangkan, yaitu dakwah Islam.
Bersama beberapa pengikutnya ia lalu membangun sebuah perkampungan santri. Hunian sederhana itu, terdiri dari langgar (mushalla) dan tempat pemondokan sementara, untuk 25 orang pengikutnya. Karena pesantren saat itu hanya dihuni 25 orang, maka dikenal dengan Pondok Selawe (dua puluh lima).  
Kiai Abdus Salam masih berada dalam garis keturunan Prabu Brawijaya, salah seorang raja Dinasti Majapahit. Lebih jelasnya, Abdus Salam adalah putera dari Abdul Jabar, putera Ahmad, putera Pangeran Sumbu, putera Pangeran Benowo, putera Jaka Tingkir (Mas Karebet), putera Lembu Peteng, putera Brawijaya V (raja Majapahit ketujuh).    
Nama Kiai Abdus Salam kemudian lebih dikenal dengan nama Shoichah atau Kyai Shoichah. Beliau kemudian menikahi seorang puteri dari kota Demak, yaitu Muslimah. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai beberapa putera dan puteri. Mereka antara lain: Layyinah, Fatimah, Abu Bakar, Marfu’ah, Jama’ah, Mustaharoh, Ali Ma’un, Fatawi, dan Abu Syakur.
Pasca berpulangnya Kyai Usman dan Kyai Said ke rahmatullah, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh Chasbulloh. Ia seorang putera Kiai Said. Ini berbeda dengan yang dialami Kiai Usman. Beliau tidak berketurunan seorang putera sebagai penerus. Oleh sebab itu, seluruh santri yang beliau asuh, lalu diboyong menuju pondok barat di bawah asuhan Kiai Chasbulloh. Dalam mengembangkan pesantren, Kiai Chasbulloh ditemani seorang istri setia, yaitu Nyai Latifah (asalnya Aisyah) yang berasal dari desa Tawangsari, Sepanjang Sidoarjo.  
                                                   **********
Di tengah ketenangan dan kedamaian suasana batin Abdus Salam selepas menaklukkan semak dan mendidik santri, ternyata pihak penjajah, Belanda, merasa terancam. Belanda khawatir Abdus Salam akan menghimpun bala kekuatan untuk menentangnya jika pesantrennya terus berkembang. Dari kekhawatiran ini, Belanda berkali-kali mencoba memanggil Abdus Salam. Namun, naluri sebagai seorang mantan pasukan perang Pangeran Diponegoro, membuatnya tidak cepat merespon untuk memenuhi panggilan tersebut. Abdus Salam tahu bahwa, jika memiliki keinginan, maka Belanda akan menggunakan berbagai cara, termasuk memanggil seseorang untuk berunding. Ujung-ujungnya, itu hanya untuk memantapkan posisinya dalam menjajah negeri ini.
Dikisahkan, tiga kali Belanda mencoba memanggil Abdus Salam. Pada panggilan pertama dan kedua pihak Belanda kembali dengan tangan hampa. Kiai Abdus Salam sama sekali tak mengindahkan pemanggilan tersebut. Dua kali pemanggilan “baik-baik” tidak mau datang, Belanda menganggap Kiai Abdus Salam telah membangkang dan menentang mereka. Maka, pada pemanggilan ketiga, Belanda memerintahkan utusannya agar mampu membawa Kiai Abdus Salam hidup atau mati. Jika masih saja membangkang, maka harus dipaksa.  
Kiai Abdus Salam sendiri, juga jengah karena merasa ketenangannya dalam berdakwah terusik oleh Belanda.
Pada pemanggilan ketiga Belanda mengirim kurir yang gagah berani dengan mengendarai bendi. Sesuai dengan misi tugasnya untuk menghadirkan Abdus Salam dalam keadaan apapun, kurir itu berkata kepada Abdus Salam dengan kata-kata kasar dan memaksa. Kiai Abdus Salam yang sudah kesal terhadap Belanda tersinggung, lalu spontan membentak kurir tersebut, “Kurang ajar”, begitu kira-kira.
Keajaiban terjadi, begitu kata-kata bentakan itu dilontarkan Abdus Salam, kurir belanda itu langsung klenger, mati bersama kuda yang ia tunggangi.
Cerita tentang Abdus Salam dan tewasnya kurir Belanda tersebut cepat tersebar luas ke masy`rakat. Sejak saat itulah, Kiai Abdus Salam mendapat sebutan Shoichah, atau “Mbah Shoichah”, yang artinya bentakan. Kiai Abdus Salam hingga kini tetap dikenal, dikenang, dan dihormati sebagai Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Dari Kiai Abdus Salam atau Mbah Shoichah dan istrinya, Nyai Muslimah, kelak melahirkan keturunan ulama-ulama besar. Seperti sebut saja, Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (founding father dan Rais Akbar NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri dan Rais ‘Am pertama NU), KH Abdul Wahid Hasyim (Tokoh NU dan Mantan Menteri Agama RI), KH Muhammad Wahib Wahab (Tokoh NU, Mantan Menteri Urusan Kerja Sama Sipil-Militer RI, dan Mantan Menteri Agama RI), KH. Abdurrahman Wahid (Mantan Ketua Umum PBNU dan Mantan Presiden RI), dan lain-lain. (Diolah dan diedit dari berbagai sumber).

Jumat, 07 Desember 2012

SERI WALI SONGO (1)

Syekh Maulana Malik Ibrahim

Siapa sih yang tidak mengenal nama salah satu wali songo ini? Namanya, Syekh Maulana Malik Ibrahim. Siapakah dia? Apa jasa-jasanya? Ikuti paparan biografi Syekh yang satu ini!
Menurut sumber sejarah, Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa pada tahun 1404 M. Sebenarnya jauh sebelum kedatangannya, di Gresik telah ada komunitas muslim. Hanya, jumlah mereka tidaklah seberapa. Terbukti, dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin Hibatallah yang wafat pada tahun 475 Hijriyah atau tahun 1082 M.
13541772292123356374
makam Siti Fatimah binti Maimun
Syekh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 1419, merupakan seorang pakar tata negara ulung. Inskripsi yang terdapat pada batu nisannya, membuktikan hal itu. Ada sejumlah lafal Arab yang tertulis pada batu nisannya.Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti demikian:
“Inilah makam almarhum almaghfurlah yang berharap rahmat Tuhan kebanggaan para Pangeran, sendi para sultan dan para menteri. Ia juga penolong kaum fakir miskin yang berbahagia lagi syahid cemerlangnya simbol negara dan agama. Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kake Bantal. Allah meliputinya dengan rahmat dan keridhaan-Nya. Ia pula dimasukkan ke dalam surga Allah. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 Hijriyah.
Inilah bunyi tulisan yang tertulis pada nisan makam Syekh Maulana Malik Ibrahim. Penduduk pribumi mengenalnya sebagai Kakek Bantal.
Ini membuktikan bahwa pada masa itu, ia berdakwah dengan cara yang bijaksana lagi santun. Masyarakat sekitarnya—lebih-lebih kalangan grass root—pun senang dengan cara dakwah yang ia tunjukkan.
Ia dapat dengan mudah menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat sekitarnya.
Agama dan adat istiadat lama, tidak langsung ia tentang secara frontal dan dan kaku. Semuanya, ia hadapi dengan ketinggian akhlak dan tetap membumi. Metode dakwahnya, yaitu langsung mencontohkan segala budi pekerti yang baik kepada masyarakat. Tutur bahasanya sopan dan lemah lembut. Ia selalu santun kepada kaum fakir miskin dan hormat kepada yang lebih tua; pun selalu menyayangi kaum muda.
Cara seperti itu, ternyata bisa membuat pribumi Jawa mulai tertarik pada agama Islam. Pada akhirnya, mereka menjadi pemeluk agama Islam yang teguh.
Pada masa itu, di Pulau Jawa, ada sebuah imperium besar bernama Wilwatikta atau Majapahit. Pusat kerajaannya ada di kotapraja Trowulan Mojokerto. Tetapi sesungguhnya, secara politis, ketika pada abad-15, Majapahit telah banyak mengalami rongrongan, baik dari luar; lebih-lebih dari dalam.
Pasca ditinggalkan Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, kekuatan Majapahit melambat makin menurun. Majapahit sering mengalami perang saudara yang tak berkesudahan. Rakyat jelata akhirnya menjadi korban. Sisi lain, banyak kerajaan bawahan yang sebelumnya tunduk pada Majapahit, kini banyak yang memisahkan diri. Kesetiaan para pembesar dan para adipati pun mulai menurun. Banyak upeti kerajaan yang tidak sampai di tangan raja, melainkan bertumpuk di kediaman para pembesar dan para adipati. Kejahatan merebak di mana-mana. Banyak perampok dan pencuri melakukan aksi kejahatannya. Ironisnya, banyak pula kesatuan prajurit yang melepaskan diri dan beralih menjadi gerombolan perampok; mereka menggarong harta rakyat jelata.
Tak jarang, saat sedang berdakwah keliling desa, Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Kakek Bantal dan para muridnya diganggu oleh gerombolan perampok. Lalu, dengan ketinggian akhlak dan kesigapannya, para perampok itu dengan mudah ditaklukkan.
—————————————- || —————————————
Syekh Maulana Malik Ibrahim—dalam sejarah perwalian wali songo—merupakan wali tertua dari jajaran sembilan wali atau wali songo.
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarqandi, diperkirakan terlahir di Samarkand, Asia Tengah, pada abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya dengan Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, lalu berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana Malik Ibrahim, kadang juga disebut sebagai Syekh Maghribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak; ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Syekh Maulana Jumadil Kubro ini diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Sayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Dan, makam dari Syekh Maulana Jumadil Kubro ini ada di kompleks pemakaman Troloyo, Trowulan, Mojokerto.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja. Di sana, ia tinggal selama 13 tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392, Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ia tuju pertama kali, yaitu desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran yang terletak di kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang ia lakukan saat itu, berdagang. Berdagang apa? Ia membuka warung yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu, secara khusus, Syekh juga menyempatkan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan, ia seorang permaisuri yang masih terhitung kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat kasta bawah yang tersisih dalam agama Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya,, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Suatu hari, saat selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M, Syekh Maulana Malik Ibrahim berpulang ke rahmatullah. Makamnya terletak di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.
13541768071881307545
makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik
13541768591582613834
sisi depan makam
* Semoga Allah senantiasa menempatkannya pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya. Amin*

Alkisah dari Desa Tambakberas abad 19

Sebuah kisah

Dulu, dulu sekali, desa Tambakberas hanyalah berupa belantara. Di mana-mana, rerimbunan pepohonan tumbuh. Semak belukar meranggas liar. Sungai, aliran airnya masih jernih membening dan melebar sisi-sisinya.
Saat itu, sekitar abad pertengahan 19, salah seorang murid Pangeran Diponegoro, Kiai Abdus Salam, melarikan diri dari kejaran Belanda. Ia dan kawan-kawannya, menjadi incaran tentara kompeni sesaat setelah Perang Diponegoro. Daerah yang ia tuju, desa Tambakberas.
Saat itu, desa tersebut masih sepi penghuni. Alas masih mendominasi alam Tambakberas.Namun, pada waktu itu, ia dan sejumlah rekannya, punya sebuah keinginan. Apa itu? Kiai Abdus Salam, ingin mendirikan sebuah pesantren. Ia berharap, kelak, melalui pesantren yang ia dirikan, bisa melahirkan kader-kader agama yang kompeten dan piawai dalam mengejawantahkan ajaran-ajaran agama; dengan segala kearifan dan keluhuran budi pekerti.
Pesantren itu awalnya hanya berupa bangunan membujur utara selatan. Panjangnya kira-kira 15 meter. Dari utara-selatan, ada sekitar 5 buah kamar. Setiap kamar, diisi sekitar 5 orang santri, awalnya. Maka, kemudian ada penamaan, pesantren itu disebut pondok "nyelawe", yang artinya pesantren yang dihuni oleh 25 orang santri.
Saat itu, negeri Indonesia belumlah merdeka. Pemerintah kolonial Belanda masih pongah menguasai negeri yang amat subur ini. Kekejamannya tak lagi bisa dilukiskan dengan tuangan kata-kata apapun. Kiai Abdus Salam menyadari, di Tambakberas, ia dan para santrinya tidak hanya berjuang di jalan Allah. Lebih dari itu, mereka juga berjuang melawan Pemerintahan Kolonial Belanda.

Singkat kisah, Kiai Abdus Salam telah menanamkan dasar-dasar ajaran keislaman di tanah Jombang. Khususnya di tanah desa Tambakberas. Menurut sebuah kisah lain, Tambakberas ketika itu, penuh dengan orang-orang jahat. Madat, minum, main perempuan, menjadi kelumrahan sehari-hari. Maka, ia juga turut berjuang menghilangkan hal-hal buruk yang sudah berakar kuat di desa tersebut.

Kiai Abdus Salam, pendahulu para kiai tersohor di Jombang.

Salam