Syekh Maulana Malik Ibrahim
Siapa
sih yang tidak mengenal nama salah satu wali songo ini? Namanya, Syekh
Maulana Malik Ibrahim. Siapakah dia? Apa jasa-jasanya? Ikuti paparan
biografi Syekh yang satu ini!
Menurut
sumber sejarah, Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa pada
tahun 1404 M. Sebenarnya jauh sebelum kedatangannya, di Gresik telah ada
komunitas muslim. Hanya, jumlah mereka tidaklah seberapa. Terbukti,
dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun bin
Hibatallah yang wafat pada tahun 475 Hijriyah atau tahun 1082 M.
makam Siti Fatimah binti Maimun
“Inilah
makam almarhum almaghfurlah yang berharap rahmat Tuhan kebanggaan para
Pangeran, sendi para sultan dan para menteri. Ia juga penolong kaum
fakir miskin yang berbahagia lagi syahid cemerlangnya simbol negara dan
agama. Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kake Bantal. Allah meliputinya
dengan rahmat dan keridhaan-Nya. Ia pula dimasukkan ke dalam surga
Allah. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun 822 Hijriyah.
Inilah
bunyi tulisan yang tertulis pada nisan makam Syekh Maulana Malik
Ibrahim. Penduduk pribumi mengenalnya sebagai Kakek Bantal.
Ini membuktikan bahwa pada masa itu, ia berdakwah dengan cara yang bijaksana lagi santun. Masyarakat sekitarnya—lebih-lebih kalangan grass root—pun senang dengan cara dakwah yang ia tunjukkan.
Ia dapat dengan mudah menyesuaikan diri di lingkungan masyarakat sekitarnya.
Agama dan adat istiadat lama, tidak langsung ia tentang secara frontal dan dan kaku. Semuanya, ia hadapi dengan ketinggian akhlak dan tetap membumi. Metode dakwahnya, yaitu langsung mencontohkan segala budi pekerti yang baik kepada masyarakat. Tutur bahasanya sopan dan lemah lembut. Ia selalu santun kepada kaum fakir miskin dan hormat kepada yang lebih tua; pun selalu menyayangi kaum muda.
Agama dan adat istiadat lama, tidak langsung ia tentang secara frontal dan dan kaku. Semuanya, ia hadapi dengan ketinggian akhlak dan tetap membumi. Metode dakwahnya, yaitu langsung mencontohkan segala budi pekerti yang baik kepada masyarakat. Tutur bahasanya sopan dan lemah lembut. Ia selalu santun kepada kaum fakir miskin dan hormat kepada yang lebih tua; pun selalu menyayangi kaum muda.
Cara
seperti itu, ternyata bisa membuat pribumi Jawa mulai tertarik pada
agama Islam. Pada akhirnya, mereka menjadi pemeluk agama Islam yang
teguh.
Pada
masa itu, di Pulau Jawa, ada sebuah imperium besar bernama Wilwatikta
atau Majapahit. Pusat kerajaannya ada di kotapraja Trowulan Mojokerto.
Tetapi sesungguhnya, secara politis, ketika pada abad-15, Majapahit
telah banyak mengalami rongrongan, baik dari luar; lebih-lebih dari
dalam.
Pasca
ditinggalkan Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, kekuatan
Majapahit melambat makin menurun. Majapahit sering mengalami perang
saudara yang tak berkesudahan. Rakyat jelata akhirnya menjadi korban.
Sisi lain, banyak kerajaan bawahan yang sebelumnya tunduk pada
Majapahit, kini banyak yang memisahkan diri. Kesetiaan para pembesar dan
para adipati pun mulai menurun. Banyak upeti kerajaan yang tidak sampai
di tangan raja, melainkan bertumpuk di kediaman para pembesar dan para
adipati. Kejahatan merebak di mana-mana. Banyak perampok dan pencuri
melakukan aksi kejahatannya. Ironisnya, banyak pula kesatuan prajurit
yang melepaskan diri dan beralih menjadi gerombolan perampok; mereka
menggarong harta rakyat jelata.
Tak
jarang, saat sedang berdakwah keliling desa, Syekh Maulana Malik
Ibrahim atau Kakek Bantal dan para muridnya diganggu oleh gerombolan
perampok. Lalu, dengan ketinggian akhlak dan kesigapannya, para perampok
itu dengan mudah ditaklukkan.
—————————————- || —————————————
Syekh Maulana Malik Ibrahim—dalam sejarah perwalian wali songo—merupakan wali tertua dari jajaran sembilan wali atau wali songo.
Maulana
Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarqandi, diperkirakan terlahir
di Samarkand, Asia Tengah, pada abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma
menyebutnya dengan Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa
terhadap As-Samarkandy, lalu berubah menjadi Asmarakandi.
Maulana
Malik Ibrahim, kadang juga disebut sebagai Syekh Maghribi. Sebagian
rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana
Ishak; ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri
(Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia,
bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Syekh
Maulana Jumadil Kubro ini diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Sayidina
Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Dan, makam dari Syekh Maulana Jumadil
Kubro ini ada di kompleks pemakaman Troloyo, Trowulan, Mojokerto.
Maulana
Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja. Di sana, ia
tinggal selama 13 tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja
yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan
Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup
menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392, Maulana Malik
Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa
versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah
yang ia tuju pertama kali, yaitu desa Sembalo, daerah yang masih berada
dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah
Leran yang terletak di kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang ia lakukan saat itu, berdagang. Berdagang apa? Ia membuka
warung yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga murah.
Selain itu, secara khusus, Syekh juga menyempatkan diri untuk mengobati
masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang
untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan,
ia seorang permaisuri yang masih terhitung kerabat istrinya.
Kakek
Bantal juga mengajarkan cara-cara baru dalam bercocok tanam. Ia
merangkul masyarakat kasta bawah yang tersisih dalam agama Hindu. Maka
sempurnalah misi pertamanya,, yaitu mencari tempat di hati masyarakat
sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang
saudara. Suatu hari, saat selesai membangun dan menata pondokan tempat
belajar agama di Leran, tahun 1419 M, Syekh Maulana Malik Ibrahim
berpulang ke rahmatullah. Makamnya terletak di kampung Gapura, Gresik,
Jawa Timur.
makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik
sisi depan makam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar