Senin, 01 April 2013

Penjara Koblen Surabaya

Penjara Koblen Surabaya

Di musim hujan seperti sekarang ini, kadang agak malas bepergian ke luar kota. Untuk sementara, lupakan dahulu spot-spot sejuk seperti Ranu Pani, Madakaripura, Cuban Baung, atau bahkan Ranu Kumbolo. Sebagai cara lain, touring jelajah budaya Surabaya sesekali perlu dilakukan.
Hari ini, Jumat 25 Januari 2013, ada 1 tujuan utama, destinasi blusukan kota-ku. Sebut saja namanya Penjara Koblen.Nah, bagaimana detil kisah touring budaya kali ini? Ikuti saya yuk….

13591650591536632282
sisi luar sebelah utara
1359165517664340711
sang penggiat touring cagar budaya sejarah
Penjara ini berada di Jalan Koblen Bubutan Surabaya. Menilik nama jalan, lalu masyarakat pun mufakat menamainya dengan Penjara Koblen. penjara ini berusia hampir seabad. Tangsi militer ini, dibangun pertama kali oleh VOC Belanda pada tahun 1930. Fungsi awal bangunan ini, yaitu sebagai basis militer maupun asrama militer tentara Belanda. Selain itu, bangunan yang dindingnya berstrukturkan batu-batuan kali ini, digunakan untuk memenjarakan para tahanan. Luas penjara Koblen kira-kira 3 Ha.
Kompleks ini dikelilingi tembok batu setinggi 3 meter yang masih kelihatan utuh sampai sekarang. Di bagian luar tembok dikelilingi parit. Di setiap sudutnya terdapat menara pengawas yang juga lumayan tersisa bentuknya. Di bagian dalamnya juga terdapat dua buah menara yang terpisah dari tembok luar, sayangnya tinggal satu yang masih berdiri, itupun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
13591656461897969456
lewat pintu inilah, dulu para tawanan pejuang NKRI dibui, mereka disiksa, disekap, dibantai, bahkan dibunuh oleh tentara VOC. Setelah Jepang mengalami kekalahan jelang 10 Nopember 1945, pejuang-pejuang Kempetai-nya dipaksa masuk ke dalam Koblen.
Penjara Koblen, memang berusia tua. Tetapi, usia yang tua, selalu menawarkan sisi sejarah yang dalam. Contoh, jelang pertempuran 10 Nopember 1945, banyak para milisi pemuda maupun tentara rakyat, bahu-membahu menggempur barak Kempetai (polisi militer) Jepang di Kusuma Bangsa. Serangan rakyat Surabaya begitu sporadis dan masif. Akibatnya, Kempetai Jepang kewalahan dan, kalah. Mereka yang kalah, lalu digiring ke Penjara Koblen. Dan, di sana, juga banyak tentara Belanda yang tertawan dan tertahan. Nah, kekalahan Kempetai di tangan pemuda dan tentara rakyat ini, berujung pada beralihnya gedung pusat Kempetai di bilangan Tugu Pahlawan (sekarang).
13591648402070701856
depan pintu masuk
13591658241051790336
dinding batu yang membingkai penjara maut, Koblen
Sebelum menjadi markas besar Kempetai Jepang, gedung itu bernama Raad van Justitie, gedung pengadilan Belanda. Setelah berada pada penguasaan arek-arek Suroboyo, ironisnya, gedung Kempetai malah dibombardir Sekutu. Tepatnya pada saat peristiwa paling heroik, 10 Nopember 1945. Setelah hancur (yang mungkin saja kehancurannya amat parah) lalu didirikanlah monumen Tugu Pahlawan yang kini kokoh dan gagah berdiri.
Kembali ke Koblen…
Penjara Koblen, kini berubah fungsi. Di dalamnya, banyak mobil, truk, bus, bahkan benda-benda tak laik pakai (baca: sampah). Ada pula beberapa jenis primata unggas yang sedang dibiarkan bebas berkeliaran di area dalam yang sekarang berubah menjadi tanah lapang. Amat ironis, tepat di sisi timur, berdirilah bangunan mall megah. Ketinggian mall itu, berbanding terbalik dengan keadaan prihatin dari sebuah cagar budaya kota Surabaya. Tak terawat, hancur oleh beragam kepentingan segelintir kaum penikmat uang. Tetapi, di sisi lain, keadaan dinding bangunan tua ini, masih tegas terlihat. Biarpun, di sejumlah sudutnya, bertumbuhan hijauan lumut segar merambah.
1359165151880882497
kondisi di area dalam bekas penjara
13591654091885786839
menara pengintai bagian dalam, saksi kekejaman tentara VOC Belanda
1359166238667258873

Penjara Koblen, terletak di wilayah Bubutan. Daerah ini, memang bisa dikatakan gudang-nya tempat bersejarah. Selain Penjara Koblen, ada beberapa cagar sejarah lain. Sebut saja, gedung GNI yang di sana juga ada makam Pahlawan Nasional, Dr. Soetomo. Tak jauh dari situ, berdirilah bangunan rumah ‘lawas’ yang dahulu (tahun 1933) menjadi markas redaksi majalah Panjebar Semangat; sebuah majalah berbahasa Jawa. Ada lagi, sebuah rumah jadul milik HOS Tjokroaminoto yang pernah ditempati Soekarno saat masih bersekolah di HIS. Tentu, keberadaan tempat-tempat bersejarah itu, memperkaya budaya kota Surabaya. Apapun, kelestarian cagar budaya, lebih-lebih kaya cerita sejarah, patut dijaga dan dilestarikan. Kenapa? Karena segala yang bersifat historis, selalu menjadi santapan renyah bagi kalangan kekinian. Semoga…