Di musim hujan seperti sekarang ini, kadang agak malas bepergian ke luar kota. Untuk sementara, lupakan dahulu spot-spot sejuk seperti Ranu Pani, Madakaripura, Cuban Baung, atau bahkan Ranu Kumbolo. Sebagai cara lain, touring jelajah budaya Surabaya sesekali perlu dilakukan.
Hari ini, Jumat 25 Januari 2013, ada 1 tujuan utama, destinasi blusukan kota-ku. Sebut saja namanya Penjara Koblen.Nah, bagaimana detil kisah touring budaya kali ini? Ikuti saya yuk….
sisi luar sebelah utara
sang penggiat touring cagar budaya sejarah
Kompleks ini dikelilingi tembok batu setinggi 3 meter yang masih kelihatan utuh sampai sekarang. Di bagian luar tembok dikelilingi parit. Di setiap sudutnya terdapat menara pengawas yang juga lumayan tersisa bentuknya. Di bagian dalamnya juga terdapat dua buah menara yang terpisah dari tembok luar, sayangnya tinggal satu yang masih berdiri, itupun dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.
lewat pintu inilah, dulu para tawanan pejuang
NKRI dibui, mereka disiksa, disekap, dibantai, bahkan dibunuh oleh
tentara VOC. Setelah Jepang mengalami kekalahan jelang 10 Nopember 1945,
pejuang-pejuang Kempetai-nya dipaksa masuk ke dalam Koblen.
depan pintu masuk
dinding batu yang membingkai penjara maut, Koblen
Kembali ke Koblen…
Penjara Koblen, kini berubah fungsi. Di dalamnya, banyak mobil, truk, bus, bahkan benda-benda tak laik pakai (baca: sampah). Ada pula beberapa jenis primata unggas yang sedang dibiarkan bebas berkeliaran di area dalam yang sekarang berubah menjadi tanah lapang. Amat ironis, tepat di sisi timur, berdirilah bangunan mall megah. Ketinggian mall itu, berbanding terbalik dengan keadaan prihatin dari sebuah cagar budaya kota Surabaya. Tak terawat, hancur oleh beragam kepentingan segelintir kaum penikmat uang. Tetapi, di sisi lain, keadaan dinding bangunan tua ini, masih tegas terlihat. Biarpun, di sejumlah sudutnya, bertumbuhan hijauan lumut segar merambah.
kondisi di area dalam bekas penjara
menara pengintai bagian dalam, saksi kekejaman tentara VOC Belanda

Penjara Koblen, terletak di wilayah Bubutan. Daerah ini, memang bisa dikatakan gudang-nya tempat bersejarah. Selain Penjara Koblen, ada beberapa cagar sejarah lain. Sebut saja, gedung GNI yang di sana juga ada makam Pahlawan Nasional, Dr. Soetomo. Tak jauh dari situ, berdirilah bangunan rumah ‘lawas’ yang dahulu (tahun 1933) menjadi markas redaksi majalah Panjebar Semangat; sebuah majalah berbahasa Jawa. Ada lagi, sebuah rumah jadul milik HOS Tjokroaminoto yang pernah ditempati Soekarno saat masih bersekolah di HIS. Tentu, keberadaan tempat-tempat bersejarah itu, memperkaya budaya kota Surabaya. Apapun, kelestarian cagar budaya, lebih-lebih kaya cerita sejarah, patut dijaga dan dilestarikan. Kenapa? Karena segala yang bersifat historis, selalu menjadi santapan renyah bagi kalangan kekinian. Semoga…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar