Kamis, 29 November 2012

Seri Wali Songo (Part 2)







SUNAN KALIJAGA
Nah, kali ini, kita akan meluncur ke daratan Jawa bagian tengah. Tepatnya, ke kota Demak. Kota ini, dahulu pernah dihuni oleh seorang waliyullah. Dia bernama Raden Said. Ingin tahu lebih lengkap ceritanya? Silakan habiskan kopi dulu, lalu kita pelan-pelan menapaktilasinya. Ini dia…
                                                                ********
Sunan Kalijaga, merupakan salah satu tokoh dalam jajaran Wali Songo. Ia dikenal karena kepiawaiannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Sebagian dari kita, mungkin menyebutnya dengan asimilasi budaya Jawa dengan ajaran Islam.
Sunan Kalijaga punya usia yang cukup panjang. Diperkirakan usianya mencapai lebih dari 100 tahun. Jadi, ia mengalami masa-masa akhir kekuasaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, dan Banten. Bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546, serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Sunan Kalijaga ikut pula mendesain konstruksi Masjid Agung Cirebon maupun Masjid Agung Demak. Salah satu kreasinya, yaitu adanya Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid.

Tahun kelahiran Sunan Kalijaga, berkisar pada tahun 1450. Saat itu, ia dinamai Raden Said. Raden Said merupakan putera adipati Tuban, namanya Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Sunan Kalijaga punya beberapa nama lain, seperti: Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman.
Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Ketika Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Bicara mengenai asal-usul sang sunan, ada beberapa pendapat. Salah satunya mengatakan bahwa Sunan Kalijaga masih keturunan bangsa Arab. Tetapi, banyak pula yang menyatakan, ia orang Jawa asli. Van den Berg mengungkapkan bahwa Sunan Kalijaga, masih merupakan keturunan Arab yang silsilahnya sambung kepada Kanjeng Rasul Muhammad.
Ada ceritera lain lagi. Babad Tuban mengabarkan bahwa Aria Teja alias Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara. Ia lalu menikahi puterinya. Dari pernikahan mereka, lalu lahirlah seorang putera bernama Aria Wilatikta.
Tome Pires dalam catatannya, penguasa Tuban pada tahun 1500 M merupakan cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putera Aria Wilatikta. Sejarawan lain, seperti De Graaf, membenarkan bahwa Aria Teja I (Abdur Rahman) memiliki silsilah yang sambung hingga Ibnu Abbas, paman Kanjeng Rasul Muhammad. Sunan Kalijaga sendiri mempunyai tiga anak, salah satunya Umar Said atau Sunan Muria.
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga dikatakan pernah menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Dari pernikahan mereka, lahirlah 3 orang putera: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah.
Berdakwah
Dulunya, Raden Said merupakan seorang perampok yang punya gerakan licin. Ia selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan hasil bumi. Apakah semua hasil rampokannya, ia nikmati sendiri? Tidak. Hasil rampokannya, malah ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin.
Suatu hari, Raden Said sedang berada di hutan. Ia lalu melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Singkat cerita, orang itu bernama Sunan Bonang. Tongkat yang sedang dibawa sang kakek, dilihatnya seperti tongkat emas. Tanpa pikir panjang, ia lalu merampas tongkat itu. Hasil rampasan paksa itu akan ia bagikan lagi kepada kaum papa. Tetapi, Kanjeng Sunan Bonang tidak membenarkan cara tersebut. Ia lalu menasehati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Sejurus kemudian, Sunan Bonang menunjukkan sebuah pohon aren emas. Sunan Bonang mengatakan, bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Tiba-tiba saja, Raden Said malah ingin menjadi murid dari Sunan Bonang.
Mendengar permintaan Raden Said, Sunan Bonang hanya diam. Ia lalu menjauhi Raden Said dan berjalan menuju sebuah sungai. Tanpa diperintah, Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke sungai. (Sekali lagi) Raden Said bersikeras bahwa ia ingin menjadi muridnya.
Karena dilihatnya, Raden Said punya itikad serius, Sunan Bonang lalu menyuruhnya untuk bersemedi. Itu tidak sekedar semedi. Raden Said juga diharuskan menjaga tongkat Sunan Bonang yang tertancap kuat di tepian sungai. Dan, Raden Said tidak boleh beranjak darh tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu menjalankan perintah tersebut.
Hari demi hari, semedia ia jalani dengan sabar. Bukan hanya hitungan hari, minggu, bulan, tetapi bahkan tahun. Hingga, membuatnya tertidur dalam waktu lama.
Karena lama tertidur, tanpa ia sadari, akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke sungai maka nama Raden Said diganti menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan orang-orang mengenalnya dengan sebutan Sunan Kalijaga.
Saat berdakwah, ada kesamaan cara antara Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang. Paham ajarannya cenderung mengarah pada "sufistik berbasis salaf"—bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Dunia seni dan budaya, Ia sasar sebagai sarana utama dalam menyebarkan misi dakwah Islamnya.
Ia sangat menyesuaikan diri dengan khazanah budaya orang-orang pribumi. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika tatanan budayanya diberangus. Maka, mereka harus didekati secara pelan-pelan: mengikuti sambil memengaruhi.
Jika Islam sudah dimengerti dengan sebaik mungkin, dengan sendirinya masyarakat pribumi akan menanggalkan kebiasaan lama mereka. Demikian yang menurut pituduh Kanjeng Sunan Kalijaga.
Sehingga, tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwahnya. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang memasyarakat seperti Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul.
Kanjeng Sunan Kalijaga juga dianggap sebagah penggagas baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lansekap pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula sebagai hasil konsep Sunan Kalijaga.

Inilah silsilah Sunan Kalijaga:

Sayyidina Abbas (paman
Kanjeng Rasulullah)
                       ¯
Syekh Abdul Wahid Qornain
                    ¯
Syekh Wahid Rumi
                    ¯
Syekh Mudzakir Rumi
                    ¯
Syekh Khoromis
                    
                    ¯
Syekh Abdullah
                    ¯

Syekh Abdur Rahman
                    ¯
Ronggo Tedjo Laku atau Syekh Zali
                    ¯
Aryo Tejo
                    ¯
Raden Sahur
                    ¯
Raden Syahid (Sunan Kalijaga)


Sunan Kalijaga dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum 1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal pemerintahan Mataram (1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi, yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senopati di Mataram.

Tak lama setelah itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah, hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode para wali yang lain. 
Semoga Allah senantiasa menempatkan almarhum Kanjeng Sunan Kalijaga pada tempat yang paling mulia di sisi-Nya, dan mengampuni segala dosanya. Amin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar