SUNAN KALIJAGA
Nah, kali ini, kita akan meluncur ke daratan Jawa bagian
tengah. Tepatnya, ke kota Demak. Kota ini, dahulu pernah dihuni oleh seorang
waliyullah. Dia bernama Raden Said. Ingin tahu lebih lengkap ceritanya? Silakan
habiskan kopi dulu, lalu kita pelan-pelan menapaktilasinya. Ini dia…
********
Sunan Kalijaga, merupakan salah satu tokoh dalam jajaran Wali Songo. Ia dikenal karena kepiawaiannya memasukkan
pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa.
Sebagian dari kita, mungkin
menyebutnya dengan asimilasi budaya Jawa dengan ajaran Islam.
Sunan Kalijaga punya usia yang cukup panjang. Diperkirakan usianya mencapai
lebih dari 100 tahun. Jadi, ia mengalami masa-masa akhir kekuasaan Majapahit, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, dan Banten. Bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546, serta awal
kehadiran Kerajaan Mataram di bawah
pimpinan Panembahan Senopati. Sunan Kalijaga ikut pula mendesain konstruksi Masjid Agung Cirebon maupun Masjid Agung Demak. Salah satu
kreasinya, yaitu adanya Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan
salah satu dari tiang utama masjid.
Tahun kelahiran Sunan Kalijaga, berkisar pada tahun 1450. Saat itu, ia dinamai Raden Said. Raden Said merupakan putera adipati Tuban, namanya Tumenggung Wilwatikta atau Raden
Sahur. Sunan Kalijaga punya beberapa
nama lain, seperti: Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden
Abdurrahman.
Berdasarkan satu versi masyarakat
Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Ketika Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia
sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.
Bicara mengenai asal-usul sang sunan, ada beberapa pendapat. Salah satunya mengatakan bahwa Sunan Kalijaga masih keturunan bangsa Arab. Tetapi, banyak pula yang menyatakan, ia orang Jawa
asli. Van den Berg mengungkapkan bahwa Sunan Kalijaga, masih merupakan
keturunan Arab yang silsilahnya sambung kepada Kanjeng Rasul Muhammad.
Ada ceritera lain lagi. Babad Tuban
mengabarkan bahwa Aria Teja alias Abdul
Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara. Ia lalu menikahi puterinya. Dari pernikahan mereka, lalu lahirlah seorang putera bernama
Aria Wilatikta.
Tome Pires dalam catatannya, penguasa
Tuban pada tahun 1500 M merupakan cucu dari
peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putera Aria
Wilatikta. Sejarawan lain, seperti De
Graaf, membenarkan bahwa
Aria Teja I (Abdur Rahman)
memiliki silsilah yang sambung
hingga Ibnu Abbas, paman Kanjeng Rasul Muhammad. Sunan
Kalijaga sendiri mempunyai
tiga anak, salah
satunya Umar Said atau Sunan Muria.
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga dikatakan pernah menikah
dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Dari pernikahan mereka, lahirlah 3 orang putera: R. Umar
Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh, dan Dewi Sofiah.
Berdakwah
Dulunya, Raden Said merupakan seorang
perampok yang punya gerakan
licin. Ia selalu
mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan hasil bumi. Apakah semua hasil
rampokannya, ia nikmati sendiri? Tidak. Hasil rampokannya, malah ia bagi-bagikan kepada
orang-orang miskin.
Suatu hari, Raden Said sedang berada di
hutan. Ia lalu melihat seseorang kakek tua yang
bertongkat. Singkat cerita, orang itu bernama Sunan Bonang. Tongkat yang sedang dibawa sang kakek,
dilihatnya seperti tongkat emas. Tanpa pikir panjang, ia lalu merampas
tongkat itu. Hasil rampasan paksa itu akan ia
bagikan lagi kepada kaum papa. Tetapi, Kanjeng Sunan Bonang
tidak membenarkan cara tersebut. Ia lalu menasehati Raden
Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Sejurus kemudian, Sunan
Bonang menunjukkan sebuah pohon aren
emas. Sunan Bonang mengatakan, bila Raden
Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang
ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Tiba-tiba saja, Raden Said malah ingin menjadi
murid dari Sunan Bonang.
Mendengar permintaan Raden Said, Sunan Bonang hanya diam.
Ia lalu menjauhi Raden Said dan berjalan menuju sebuah sungai. Tanpa diperintah,
Raden Said
lalu menyusul Sunan Bonang ke sungai. (Sekali lagi) Raden Said bersikeras bahwa ia ingin menjadi
muridnya.
Karena dilihatnya, Raden Said punya itikad serius, Sunan Bonang
lalu menyuruhnya untuk
bersemedi. Itu tidak
sekedar semedi. Raden Said juga diharuskan menjaga tongkat Sunan Bonang yang tertancap kuat di tepian sungai. Dan, Raden Said
tidak boleh beranjak darh tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden
Said lalu menjalankan perintah
tersebut.
Hari demi hari, semedia ia jalani dengan sabar. Bukan hanya
hitungan hari, minggu, bulan, tetapi bahkan tahun. Hingga, membuatnya tertidur
dalam waktu lama.
Karena lama tertidur, tanpa ia sadari, akar dan
rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan
membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke
sungai maka nama Raden Said
diganti menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi
pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan orang-orang mengenalnya dengan sebutan Sunan
Kalijaga.
Saat berdakwah, ada kesamaan cara antara Sunan Kalijaga
dengan Sunan Bonang. Paham ajarannya cenderung mengarah pada "sufistik berbasis salaf"—bukan sufi panteistik (pemujaan
semata). Dunia seni dan
budaya, Ia sasar sebagai
sarana utama dalam menyebarkan misi dakwah Islamnya.
Ia sangat menyesuaikan diri dengan khazanah budaya orang-orang pribumi. Ia
berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika tatanan budayanya diberangus. Maka, mereka harus
didekati secara pelan-pelan: mengikuti
sambil memengaruhi.
Jika Islam sudah dimengerti dengan sebaik mungkin, dengan
sendirinya masyarakat
pribumi akan menanggalkan kebiasaan lama mereka. Demikian yang menurut pituduh
Kanjeng Sunan Kalijaga.
Sehingga, tidak mengherankan, ajaran Sunan
Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir,
wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwahnya. Beberapa
lagu suluk ciptaannya yang memasyarakat seperti Ilir-ilir dan Gundul-gundul
Pacul.
Kanjeng Sunan Kalijaga juga dianggap sebagah penggagas baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, serta lakon carangan Layang
Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lansekap pusat
kota berupa keraton,
alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula sebagai hasil konsep Sunan
Kalijaga.
Inilah silsilah Sunan
Kalijaga:
Sayyidina Abbas (paman Kanjeng Rasulullah)
Sayyidina Abbas (paman Kanjeng Rasulullah)
¯
Syekh Abdul Wahid Qornain
Syekh Abdul Wahid Qornain
¯
Syekh Wahid Rumi
Syekh Wahid Rumi
¯
Syekh Mudzakir Rumi
Syekh Mudzakir Rumi
¯
Syekh Khoromis
Syekh Khoromis
¯
Syekh Abdullah
Syekh Abdullah
¯
Syekh Abdur Rahman
¯
Ronggo Tedjo Laku atau Syekh Zali
Ronggo Tedjo Laku atau Syekh Zali
¯
Aryo Tejo
Aryo Tejo
¯
Raden Sahur
Raden Sahur
¯
Raden Syahid (Sunan Kalijaga)
Raden Syahid (Sunan Kalijaga)
Sunan Kalijaga
dilukiskan hidup dalam empat era pemerintahan. Yakni masa Majapahit (sebelum
1478), Kesultanan Demak (1481-1546), Kesultanan Pajang (1546-1568), dan awal
pemerintahan Mataram (1580-an). Begitulah yang dinukilkan Babad Tanah Jawi,
yang memerikan kedatangan Sunan Kalijaga ke kediaman Panembahan Senopati di
Mataram.
Tak lama setelah
itu, Sunan Kalijaga wafat. Jika kisah itu benar, Sunan Kalijaga hidup selama
sekitar 150-an tahun! Tapi, lepas dari berbagai versi itu, kisah Sunan Kalijaga
memang tak pernah padam di kalangan masyarakat pesisir utara Jawa Tengah,
hingga Cirebon. Terutama caranya berdakwah, yang dianggap berbeda dengan metode
para wali yang lain.
Semoga Allah
senantiasa menempatkan almarhum Kanjeng Sunan Kalijaga pada tempat yang
paling mulia di sisi-Nya, dan mengampuni segala dosanya. Amin



Tidak ada komentar:
Posting Komentar